Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan

Produktif Beropini di 2014

Hehehehe.
*muncul-muncul cengengesan*

Selamat tahun baru 2014! Apa resolusi kalian pada tahun ini? Jangan bilang 1024x768 pixel. Itu mah resolusi LCD. Kalo gua pribadi pengen kembali banyak berkutat dengan tulis menulis. Sebenernya 2013 juga gua banyak nulis, tapi kebanyakan nulis tugas kuliah. Haish...

Dulu, rentang waktu tahun 2008-2010 bisa dibilang tahun di mana gua rajin menulis (tentang sepak bola) dan beberapa di antara tulisan itu gua kirim ke media massa cetak. Itu juga lebih karena saat itu gua langganan tabloid Soccer. Mulai dari surat pembaca, lalu ke kolom opini. Alhamdulillah sekitar empat atau lima kali dimuat. Pernah juga gua ngirim opini ke sebuah tabloid lokal di Bandung, Maung Bandung. Waktu itu tentang suporter Persib yang dilarang pakai atribut ke stadion selama setahun karena ulah mereka sendiri. Sayang, klipingan koran yang udah gua pisahkan harus terpisah juga dari gua. Gak tau ngilang ke mana. Duh.
(Beberapa tulisan ada yang sudah terarsip di sini)

Memasuki tahun 2011, gua udah jarang ngirim tulisan ke media massa. Paling cuma nulis di blog, dan kebanyakan bukan tentang sepak bola. Nah, tahun 2012, gua mulai nulis tentang sepak bola lagi, tapi tulisan-tulisan itu gua kirim ke media online, BeritaSatu. Secara kualitas, gua merasa tulisan gua lebih matang, hahaha. Itu karena gua banyak membaca tulisan-tulisan kolumnis sepak bola lokal. Pangeran Siahaan menjadi referensi. (tulisan gua di BeritaSatu di sini)

Di tahun 2013 gua sempat sekali coba kirim opini tentang timnas Indonesia ke koran Pikiran Rakyat. Agak gak tau diri memang, berani-berani kirim ke sana, hahaha. Alhasil memang gak dimuat. Setelah itu gua udah gak pernah kirim artikel lagi ke media massa.

Tahun 2014 inilah gua pengen kembali merasakan tulisan gua dimuat di media massa cetak. Sempat gua berpikir untuk nulis tentang politik karena geliat Pemilu ini sudah benar-benar di depan mata. Tapi Manchester United membuat gua lagi-lagi harus menulis tentang sepak bola. Kenapa? Kekalahan MU atas Tottenham Hotspur di kandang sendiri cukup menarik untuk ditulis. Ya mungkin kalian udah tau lah beritanya dari media-media, tapi gua pengen buat dari perspektif gua sendiri.

Gua hubung-hubungkanlah kandang MU yang berjuluk Theatre of Dreams dengan Teater JKT48, hahaha. Setelah beres seharian, gua kirim hari Jumat (03/01) ke harian BOLA. Harian ini memang memberi kesempatan pembaca untuk mengirimkan opini pada satu kolom khusus. Sial, hari Minggu (05/01) MU takluk lagi di kandang lawan Swansea. Terpaksa gua harus merevisi tulisan gua yang udah dikirim karena ada data baru yang harus dimasukkan. Revisi itu gua kerjakan langsung beberapa saat setelah pertandingan beres yaitu Senin dini hari, dan langsung gua kirim.

Rabu (08/01) pagi, gua dikabari teman bahwa tulisan gua tentang Emyu dan Jekate itu dimuat. Alhamdulillah, gua senyum-senyum sendiri. Tapi ternyata opini gua kepotong lumayan banyak karakter karena kepanjangan. Padahal justru gua pikir tulisan gua kurang banyak, makanya ditambah-tambahin, hahaha.
Target pertama tercapai dan hal ini gua jadikan perangsang untuk menulis dan mengirim artikel lagi. Ya pengennya sih tembus ke media-media besar semacam Kompas, karena gua belum pernah coba. Mudah-mudahan 2014 menjadi tahun yang produktif. Aamiin.

London Menyambut Olimpiade 2012

Olimpiade 2012 akan berlangsung sebentar lagi, terhitung mulai tanggal 27 Juli - 12 Agustus 2012. Tapi gaungnya sedikit kurang meriah mengingat saat ini euforia masyarakat luas tertuju pada Euro 2012. Bahkan warga London, yang notabene sebagai tuan rumah Olimpiade kali ini pun tidak terlalu antusias. Wah kok gitu?

Menurut tayangan video dari VOA berjudul "Warga London Tidak Antusias Menyambut Olimpiade" (09/06), besarnya biaya yang dikeluarkan menjadi salah satu alasan sebagian masyarakat London tidak menyukai Olimpiade ini. Mereka menganggap bahwa uang-uang yang dipakai untuk event tersebut seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal lainnya. Ada pula yang mengatakan kalau kota London sudah cukup sibuk selama ini, apalagi jika Olimpiade diselenggarakan. Tidak bisa terbayangkan ramainya ibukota Inggris tersebut.

Yang juga tidak menarik minat adalah maskot yang terlihat konyol dan merchandise Olimpiade 2012 itu sendiri. Terbatasnya tempat-tempat penjualan membuat merchandise sulit dicari. Pihak penyelenggara memang sengaja menjual merchandise official di toko-toko yang memiliki lisensi resmi. Tapi memang ada baiknya, karena distribusi barang jadi terkontrol dan lebih selektif. Kalau dijual bebas mungkin saja nanti akan ada merchandise palsu yang kualitasnya buruk. Tentu akan mengecewakan konsumen.

Wenlock dan Mandeville, maskot Olimpiade London 2012

Tapi di sisi lain tentunya banyak juga kok warga London yang antusias dan tak sabar menunggu Olimpiade 2012. Mereka bangga bahwa kotanya bisa menyelenggarakan event olahraga terbesar ini. "Saya akan mengatakan 'Saya ada di London saat Olimpiade diselenggarakan'", kata salah seorang warga. Tentu saja kota ini akan memiliki atmosfer luar biasa dan akan terasa beda dengan London di hari-hari biasa.

Karena event ini positif, gak ada salahnya warga mendukung penuh terselenggaranya Olimpiade 2012. Apalagi saat event berlangsung, pasti banyak warga dari pelosok dunia akan menginvasi kota London. Sebagai tuan rumah mereka harus menjadi panutan dan contoh untuk warga negara lain bagaimana cara menyambut dan memperlakukan tamu dengan baik dan ramah.

Tidak lupa, kita juga sebagai warga negara Indonesia harus mendukung perjuangan atlet-atlet kita di Olimpiade nanti. Semoga mereka mampu mempersembahkan yang terbaik dan mengharumkan negeri ini.

(sumber gambar via london2012.com: Newcastle and Gateshead - Wenlock & Mandeville)

Tradisi Juara dan Regenerasi

Di gelaran SEA Games tahun ini, tim bulutangkis putri Indonesia kembali gagal mempersembahkan medali emas. Di final mereka dikalahkan Thailand 3-1. Hanya pasangan Nitya/Anneke yang mencuri poin melawan ganda Thailand, Aroonkesorn/Kunchala.

Tapi hal positif ditorehkan tim putra Indonesia malam tadi (15/11). Bermain di hadapan ribuan suporter yang memadati Istora, Tommy Sugiarto dkk. berhasil menyumbang emas dengan mengalahkan tim putra Malaysia 3-1 di final. Ini sekaligus mempertahankan raihan mereka di SEA Games 2009 lalu di mana saat itu mereka meraih medali emas dengan menghadapi lawan yang sama di final.

Indonesia mempertahankan medali emas SEA Games di nomor beregu putra

Poin Indonesia disumbangkan oleh Simon Santoso di partai pertama dengan menumbangkan Daren Liew dua set langsung, 22-20 dan 21-12. Pertarungan sengit dan menegangkan terjadi ketika Bona/Ahsan berjuang keras menghadapi pasangan Malaysia, Lim/Goh. Bermain hingga set ketiga, Bona/Ahsan harus mengakui keunggulan lawannya 21-18, 15-21, 25-23.

Dengan dukungan dan teriakan 'Ayo Indonesia Bisa!' dari suporter yang hadir, Tommy Sugiarto melibas perlawanan Moh. Arif dalam permainan dua set 21-13 dan 21-17. Kemenangan Indonesia sendiri ditentukan oleh pasangan Kido/Hendra dengan mengganyang Mak Hee Chun/Ong Soon Hock lewat dua set, 21-10 dan 21- 14 dalam waktu setengah jam.

Malaysia yang di tahun ini tidak membawa Lee Chong Wei, mempercayakan posisi-posisi utama kepada pemain muda. Mereka bertaruh untuk regenerasi, tentunya demi masa depan perbulutangkisan di negeri jiran tersebut. Indonesia sendiri masih mempercayakan pemain-pemain langganannya seperti Simon ataupun Kido/Hendra. Bahkan Taufik Hidayat pun masih dimainkan ketika berhadapan dengan Thailand di semifinal.

Sudah saatnya Indonesia memunculkan lagi atlet-atlet berkualitas lainnya terutama untuk tunggal baik putra maupun putri. Simon Santoso, pemain muda yang sebenarnya cukup menjanjikan. Hanya saja performanya yang angin-anginan membuat ia tampak belum bisa menjadi andalan. Tommy Sugiarto dan Hayom Rumbaka mungkin tinggal menunggu waktu saja. Sedangkan di ganda putra, Bona/Ahsan sudah mulai menggeser dominasi Kido/Hendra. Di belakangnya masih ada Ryan/Angga yang cukup memukau di Indonesia Open beberapa bulan lalu.

Sementara untuk putri, belum ada generasi emas yang mampu tampil apik seperti Susi Susanti atau Ivana Lie. Maria Kristin dan Adriyanti Firdasari belum bisa berprestasi. Mereka lebih sering berkutat dengan cedera. Sementara pemain muda seperti Maria Febe, Linda Weni, atau Ana Rovita penampilannya tidak menonjol. Di posisi ganda putri mungkin lebih baik. Di sana terdapat nama-nama seperti Vita Marissa, Lilyana Natsir, maupun Greysia Polii. Tapi generasi setelahnya masih belum muncul.

Indonesia masih menunggu srikandi-srikandi
bulutangkis berprestasi penerus Susi Susanti


Kita menunggu lahirnya pemain-pemain yang akan menjadi andalan Indonesia untuk meruntuhkan hagemoni pemain-pemain China di dunia bulutangkis ini. Tentunya dengan pembinaan yang terkontrol dan juga menambah jam terbang atlet-atlet muda. Ayo Indonesia Bisa!

Inilah Saatnya!

Ajang olahraga 2 tahunan se-Asia Tenggara yang akan dimulai 11 November 2011 ini memunculkan dua penilaian di mata saya. Dari sisi penyelenggaraan, jelas sebuah aib karena sampai H-1 beberapa venue belum rampung. Ini gak lepas dari kasus korupsi yang terjadi di masa persiapannya. Euforia pun gagal diciptakan dari jauh hari karena hiasan seperti umbul-umbul maupun pernak-pernik SEA Games lainnya tidak nampak semarak.

Namun dari sisi kesiapan atlet, sudah gak diragukan lagi. Mereka sangat bersungguh-sungguh dan termotivasi karena tampil sebagai tuan rumah. Bahkan kabarnya beberapa atlet, seperti atlet panahan, rela merogoh koceknya untuk mendapat peralatan sendiri karena mereka gak di-support peralatan dari pengurus pusat. Tanda mereka sangat ingin memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

AYO INDONESIA BISA! Jargon yang sering diucapkan untuk menebar pengaruh positif dan meyakini bahwa Indonesia bisa menjadi juara. Tapi berapa besar kans Indonesia untuk menjadi juara umum? Mengingat saat ini negara-negara Asia Tenggara sudah berkembang pesat. Termasuk negara-negara kecil seperti Laos, Brunei Darussalam, atau Timor Leste yang biasanya hanya menjadi penggembira saja.

Memang, Indonesia masih menjadi yang terbaik karena sudah 11 kali berhasil menyabet juara umum. Terbanyak diantara negara peserta lain. Tapi itu pun terakhir kita raih pada SEA Games 1997 yang penyelenggaraannya di Jakarta. Terhitung, Indonesia belum pernah juara lagi selama 6 penyelenggaraan terakhir. Bagaimana untuk menatap jauh ke ajang yang lebih besar seperti Asian Games atau Olimpiade kalau di SEA Games saja prestasi kita menurun?

Tapi bagaimanapun, sebagai warga Indonesia kita harus optimis. Statusnya sebagai tuan rumah akan membuat para atlet berjuang mati-matian. Semoga persiapan yang mereka lakukan dapat menuai hasil maksimal dan positif. Berharap kita tidak kehilangan medali di cabang-cabang yang memang sering menjadi lumbung emas seperti bulutangkis, angkat besi, lari, dan beberapa lainnya. Inilah saatnya, AYO INDONESIA BISA!

[Review] Indonesia vs Turkmenistan

Kamis, 28 Juli 2011. Hari di mana nasib timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2014 ditentukan. Masyarakat Indonesia tentunya sangat menunggu-nunggu pertandingan Indonesia vs Turkmenistan ini dan banyak berharap para pemain mampu membawa timnas garuda mengepakkan sayapnya lebih tinggi. Apresiasi dan antusias masyarakat sangat tinggi. Tentu banyak yang masih terbawa euforia AFF Cup tahun lalu di mana Indonesia saat itu dipuja-puji meski gagal menjadi juara.

Gue yang belum punya tiket sampe hari itu, sengaja dateng pagi bareng Febri tentunya buat ngantri tiket. Di GBK kita dipertemukan dengan seorang teman sebaya dari Semarang bernama Osa yang sampe akhir pertandingan bareng kita terus karena dia di Jakarta sendirian.

Loket yang dikabarkan akan dibuka jam 11 siang, ternyata molor sampe jam 1 lewat. Gue yang saat itu ada dalam barisan, gak bisa gantian sama Febri ataupun Osa, karena susah untuk keluar masuk barisan. Padat. Terpaksa selama dua jam itu gue berdiri sampe akhirnya loket dibuka. Setelah tiket di tangan, tanpa pikir panjang kita langsung menuju masjid Al-Bina. Sholat sekaligus mengistirahatkan kaki gue.


Gak lama setelah itu datanglah Octa membawa 2 botol cat serbaguna yang sudah gue tugaskan dari sehari sebelum pertandingan. Tentu saja buat cat muka, karena gue pikir kalo ke stadion cuma dateng, duduk, teriak, seperti yang udah gue lakukan sebelum-sebelumnya itu kurang menarik. Maka untuk kali ini gue pengen muka kita di-cat biar agak beda.

Setelah adzan Ashar berkumandang, dimulailah proses cat muka. Masing-masing mempunyai corak yang berbeda. Osa juga udah kita panas-panasin untuk ikut cat muka, tapi gak mau. Setelah dirasa cukup oke, kita mencoba untuk jalan-jalan memamerkan karya cipta di muka. mwahahaha


Gak lama, wartawan antv manggil, minta kita untuk diwawancara. Gue, Octa, dan Febri melangkah dengan pede. Kemudian dari trans7 pun begitu. Terakhir pas kita lagi asik foto-foto sendiri, ada fotografer dari koran Indopos yang mau foto kita bertiga. Yang kemudian, fotonya dimuat di koran Indopos tanggal 29 Juli 2011 :))

Setelah puas muter-muter dan memang waku menunjukkan pukul 5 lewat, kita memutuskan langsung masuk stadion. Di dalam sudah cukup ramai dengan orang-orang yang memang ingin mencari posisi yang enak buat nonton. Kalo datangnya lebih malem lagi pasti dapet tempat yang gak enak.

Kick-off dimulai pukul 7 malam. Saat itu semua penonton tegang tapi tetap bersemangat. Oh ya, sebelum pertandingan dimulai pasti kedua tim menyanyikan lagu kebangsaan dong? Nah di sini gue selalu menyesalkan sikap suporter Indonesia yang berusaha ribut saat lagu kebangsaan timnas lawan sedang berkumandang. Gak semua ya, tapi kebanyakan suporter Indonesia bersikap demikian. Itu tanda kita kurang menghormati gitu loh. Hal ini juga terjadi saat AFF Cup lalu. Kurang sopan aja gitu menurut gue.

Ya, saat pertandingan dimulai tentu sorak-sorai suporter Indonesia tak bisa tertandingi. Semangatnya yang mampu membuat pemain pun ikut semangat. Ini diakui oleh pemain-pemain timnas kita. Dan ketika waktu baru berjalan 9 menit, Indonesia sudah unggul lewat sundulan Christian Gonzales. Yang kemudian menambah satu gol lagi, plus satu gol cantik Nasuha dari luar kotak penalti yang membuat Indonesia unggul 3-0 di babak pertama.

Di babak kedua tentu kita semua sudah optimis Indonesia bakal melaju dengan mudah ke fase berikutnya. Kita memprediksi Indonesia bakal menambah beberapa gol lagi untuk mempertegas kemenangan. Tapi nyatanya fisik pemain masih jadi kendala. Turkmenistan tiba-tiba mencetak satu gol. Sempat dibalas oleh M. Ridwan sehingga membuat kedudukan menjadi 4-1. Tapi kemudian beberapa menit sebelum laga usai, The Turkmen berhasil memborong dua gol untuk memperkecil skor menjadi 4-3.

Di sisa waktu tentunya para suporter berharap pemain timnas tidak kecolongan lagi dan tetap konsentrasi. Karena jika Turkmenistan membuat satu gol lagi, kedudukan 4-4 akan membawa mereka ke babak selanjutnya karena mereka unggul produktivitas gol di kandang lawan. Syukurlah hingga peluit akhir ditiup, skor tetap 4-3 untuk kemenangan Indonesia dan berhasil melangkahkan kakinya ke putaran 3 babak kualifikasi Piala Dunia 2014.

Tentunya kita berharap permainan timnas di bawah asuhan Wim Risjbergen ini mampu berbicara banyak lagi. Setelah proses pengundian, di putaran 3 ini Indonesia masuk grup E yang juga diisi tim Iran, Qatar, dan Bahrain. Mampukah kita meraih impian yang lebih tinggi lagi dengan lolos dari fase ini? Semoga saja bisa.

INDONESIA OPEN 2011

http://www.djarumbadminton.com/uploads/pics/Banner-Djarumbadminton-820px-x-360px-_01.jpg

Pekan ini Indonesia kembali menggelar Indonesia Open Super Series 2011. Gelaran bulutangkis tahunan ini disebut sebagai event yang memberi hadiah tertinggi kedua setelah Korea Open (kalo gak salah). Gak tau jumlahnya berapa. Yang jelas kalo mau beli kerupuk, bisa sekalian beli pabriknya. Gue gak mau ketinggalan nonton langsung Indonesia Open di Istora. Karena tahun 2010 kemarin juga gue ke sana. Iya nonton badminton dong, bukan jualan Aqua.

Maka direncanakanlah untuk menonton di hari pertama yaitu hari Selasa. Tapi nyatanya gue tidak diperbolehkan pergi oleh nyokap. Sempet kesel juga tapi ya ora opo-opo, toh di hari pertama baru babak kualifikasi. Demikian juga di hari kedua. Barulah di hari ketiga gue nonton sendiri tanpa teman. Boro-boro pacar, punya aja nggak. eaaa curcol.

Di hari ketiga ini adalah perdelapan final. Meskipun sendiri, gue sangat puas saat itu karena seluruh pemain Indonesia yang bertanding dapat melaju ke perempat final. Bahkan ganda putra Ryan Agung/Angga Pratama yang tidak diunggulkan sama sekali, bisa mengalahkan unggulan ketiga yang memang jagoan sekali dari Korea Selatan, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae. *keprok-keprok*

Lalu pada Sabtu (25/6), gue kembali ke Istora untuk menyaksikan babak semifinal. Kali ini bersama om dan temen gue. Di semifinal, Indonesia memiliki empat wakil. Semuanya dari regu ganda. Tantowi/Lilyana, Kido/Hendra, Nadya/Vita, dan Bona/Ahsan. Sayangnya gak semua bisa menembus final. Dua ganda putra Indonesia masih harus mengakui keunggulan dua ganda putra China. Padahal kalau semuanya masuk final, gue udah berniat untuk datang lagi ke Istora.

Pendapat gue sih tahun ini lebih menarik ya. Settingan di Istoranya lebih 'wah'. Juga penonton yang datang langsung lebih banyak. Belum lagi ada beberapa perkusi yang bikin suasana di dalam Istora lebih meriah. Gue juga dateng ke sana minimal pengen bisa masuk tipi gitu. makanya bawa beberapa atribut. Mwahaha. Barusan pagi nonton Sport7, eh beneran muncul. Tapi dari jauh, dan itu juga cuma benderanya aja. XD

Okay, Untuk Tantowi/Lilyana dan Nadya/Vita, semoga kalian bisa jadi juara untuk tahun ini!

[UPDATE] Dua pasangan Indonesia belum berhasil juara di Indonesia Open tahun ini! *nangis*



Istora Senayan disulap menjadi Planet Badminton

Tiga court yang masih kosong

Thomas Laybourn (Denmark) cedera karena terpeleset

Opening Semifinal

Fu Haifeng/Cai Yun vs Markis Kido/Hendra Setiawan

Dio [Mascot of Djarum Indonesia Open]

Muhammad Ahsan Hafizhuddin

Kenang-kenangan. halah :p


anyway, kalo ada yang mau kaos "We Are On Your Side" seperti yang gue pake di atas, gue masih punya stock. Beli ye. eaaaaaa jualan :))

TIMNAS INDONESIA, RAWK!

Mengagumkan. Itu kata yang pas buat Timnas sepakbola Indonesia saat ini. Bermain penuh determinasi, mereka mampu membuat masyarakat yang tidak suka sepakbola khususnya sepakbola Indonesia, menjadi cinta dan fanatik. Semua menjadi padu, bersatu untuk mendukung 'Garuda'.

Cukup takjub juga melihat euforia sekarang. Di timeline twitter gue, yang tadinya cuma sedikit yang membahas sepakbola, tiba-tiba menjadi ramai begitu timnas Indonesia bermain. Seakan gue memfollow orang-orang yang memang fanatik sepakbola sejak dulu.

Apa yang membuat timnas Indonesia tampil begitu spartan di gelaran AFF Cup yang ke- 8 ini? Menurut gue pribadi, faktor pelatihlah yang berjasa besar. Ya selain itu tentunya karena pemain timnas saat ini juga mempunya semangat dan daya juang yang tinggi.

Alfred Riedl, pelatih berkebangsaan Austria ini mampu mengkombinasikan pemain senior dan junior menjadi padu. Jeli dengan kemampuan para pemainnya. Contohnya Hamka Hamzah, yang sudah lama tidak memperkuat timnas dapat bermain baik setelah Riedl mempercayainya mengisi lini belakang. Dia juga berani mencoret Boas Sallosa dari daftar pemain yang akan memperkuat timnas di AFF Cup. Berbeda dengan pelatih sebelumnya yang selalu memakai pemain-pemain yang itu-itu saja, Riedl kini mempercayakan para muka baru untuk bereksplorasi di lapangan. Sebut saja Okto, Nasuha, atau Bustomi yang tampil sangat baik di turnamen ini.

Memang pada akhirnya Indonesia kembali gagal menggenggam juara. Kecewa? Pasti. Tapi kami semua, rakyat Indonesia sudah terlanjur bangga. Apa yang mereka perlihatkan di lapangan, membuat semangat para pendukungnya pun menggebu-gebu. Kami para suporter bersatu demi timnas Indonesia. Tak ada yang berani mengolok perjuangan timnas, kecuali mereka yang tak tahu diri.

Patut diingat pula, kami bangga hanya pada timnas Indonesia. Bukan pada PSSI. Kami tahu, mungkin tanpa PSSI tidak akan ada timnas Indonesia. Tapi kecongkakan para pengurusnya membuat kami antipati pada organisasi sepakbola Indonesia ini.

Dibuang Madrid, Sneijder dan Robben Menunjukkan Kualitas Terbaiknya Dalam Debut

Wesley Sneijder (Inter Milan) dan Arjen Robben (Bayern Muenchen) menbuktikan bahwa keputusan Real Madrid menjualnya adalah sebuah kesalahan. Ini diperlihatkan saat keduanya memperkuat tim barunya masing-masing.

Sneijder bermain apik sebagai trequartista dan membawa Inter menghancurkan AC Milan 0-4 dalam Derby Della Madonnina. Sementara itu Robben yang menurut kabar dibeli Bayern Muenchen seharga 25 juta euro, bermain lebih fantastis lagi karena dalam debutnya ia menyumbang 2 gol kemenangan 3-0 Bayern atas Wolfsburg.

"Dia bermain baik sebagai kesatuan dengan tim sebagai gelandang serang. Saya baru tahu Sneijder bisa dimainkan 24 jam sebelum laga derby, ketika Marco Branca (direktur olahraga Inter) mengatakan bahwa dia bisa bermain, Sneijder adalah pemain penuh talenta." tutur Mourinho sang arsitek Inter memberi apresiasi terhadap penampilan Sneijder.

van Gaal pun memuji Robben, pemain terbarunya. "Situasinya akan sangat sulit bagi pemain yang baru datang dan cuma punya dua hari untuk persiapan. Dia datang ke Bayern, dan tidak mengenal siapa pun. Mungkin pelatih dan pemainnya ia ketahui dari televisi. Selanjutnya mereka harus bekerja sama, lalu dia melakukannya. Semua yang ia tunjukkan membuktikan kualitasnya dan saya sangat bangga karena ia bermain untuk Bayern!"


Tak Berguna di Real Madrid, tapi sangat berguna bagi klub barunya

Seperti yang diketahui, kedua pemain asal Belanda ini sebelumnya tetap keukeuh ingin bertahan di Real Madrid meskipun pihak klub sudah ingin menjualnya.

“Aku sudah memikirkan bahwa ini (Real Madrid) adalah klub terbesar di dunia. Meski berat dan mereka ingin menjualku. Tujuanku jelas tetap bertahan hingga aku berniat pergi,” Ungkap Sneijder kala itu.

Hal yang sama di lontarkan Robben. "Niatku bertahan di Madrid, aku yakin aku bisa banyak membantu tim. Aku punya banyak keyakinan musim ini."

Sayangnya Madrid menjual kesetiaan mereka karena manajemen lebih mementingkan dana segar guna menutupi pengeluarannya di bursa transfer musim ini. Kini mereka telah menempati suasana baru dengan enjoy. Atmosfer kali ini jelas sangat berbeda. Pelatih mempercayainya dan fans pun mengelu-elukannya.

Bertemu Lebih Awal

Harapan Ricardo Kaka untuk tidak bertemu dengan AC Milan atau Chelsea di babak penyisihan grup Liga Champions pupus sudah. Drawing Liga Champions yang dilakukan di Nyon, Swiss menempatkan AC Milan dan Real Madrid dalam satu group di group C.

Seperti yang telah Kaka utarakan sebelum drawing, AC Milan dan Chelsea adalah dua klub yang ingin ia hindari di babak penyisihan grup.
"Aku tak ingin berhadapan dengan Chelsea karena aku memiliki banyak rasa hormat untuk Carlo Ancelotti (mantan manajernya di Milan). Aku berharap kami hanya akan berhadapan dengan mereka di babak yang lebih tinggi," kata Kaka.

Selain Kaka, ada juga dua pemain yang akan menghadapi mantan klubnya pada babak penyisihan yaitu Zlatan Ibrahimovic, Maxwell dan Samuel Eto'o. Barcelona dan Inter Milan berada di group F bersama Dynamo Kiev dan Rubin Kazan.

Di bawah ini adalah hasil Drawing Liga Champions:

Grup A
Grup B
Bayern Muenchen
Manchester United
Juventus
CSKA Moscow
Bordeaux
Besiktas
Maccabi Haifa
Wolfsburg


Grup C
Grup D
AC Milan
Chelsea
Real Madrid
Porto
Marseille
Atletico Madrid
Zurich
APOEL


Grup E
Grup F
Liverpool
Barcelona
Lyon
Inter
Fiorentina
Dynamo Kyiv
Debrecen
Rubin Kazan


Grup G
Grup H
Sevilla
Arsenal
Rangers
AZ Alkmaar
Stuttgart
Olympiakos
Unirea Urziceni
Standard Liege



Kaka, Eto'o, Ibra, dan Maxwell bersiap menghadapi mantan klubnya lebih awal

Dua Partai Puncak Berbeda Kelas

Dua partai puncak yang dilangsungkan kemarin (28/06), terlihat sangat kontras satu sama lain. Ada Final Copa Indonesia 2008/09 dan Final Confederation Cup 2009. Final Copa Indonesia mempertemukan Sriwijaya FC dan Persipura Jayapura sedangkan Final Confederation Cup diisi oleh dua tim dari Benua Amerika yaitu Amerika Serikat dan Brazil.

PERSIPURA WALK-OUT
Pada partai yang dilangsungkan di Jakabaring, Palembang yaitu kandang Sriwijaya terjadi duel yang sangat ditunggu-tunggu antara juara bertahan versus juara Liga Super Indonesia. Memang sudah dipastikan lebih banyak pendukung Sriwijaya yang memadati stadion. Tapi tidak sedikit suporter Persipura yang hadir disana.


Babak pertama masing-masing tim menyuguhkan aksi yang baik seperti yang diharapkan. Sigapnya Ferry Rotinsulu dan Jendri Pitoy memaksa babak pertama berakhir 0-0. Di babak kedua tempo permainan dipercepat. Sriwijaya dan Persipura saling menyerang. Di menit ke-51 berawal dari tusukan M. Nasuha di sisi kanan pertahanan Persipura, langsung umpan di arahkan ke kotak pinalti. Anoure Obiora yang berada di kotak pinalti berhasil menanduk bola ke gawang Jendri dan membuat Sriwijaya unggul 1-0.



Obiora membawa timnya mempertahankan gelar Copa


Sayangnya beberapa menit kemudian terjadi kericuhan. Persipura yang mengandalkan serangan balik lewat Eduard Ivakdalam langsung memberi umpan terobosan kepada Ian Kabes. Ferry yang menerjang bola tidak sanggup mengontrolnya hingga bola lepas ke kaki Jeremiah. Tanpa basa-basi Jeremiah menendang si kulit bundar ke gawang Sriwijaya. Namun tendangannya mengenai tangan dari Jimy. Wasit Purwanto tidak memberikan penalti bagi Persipura karena menganggap tidak ada pelanggaran handball.

Para pemain Persipura otomatis melayangkan protes keras kepada Purwanto. Namun wasit tetap pada keputusannya. Tidak hanya sampai situ saja. Seluruh pemain dan official tim Persipura memutuskan meninggalkan lapangan sebagai ben
tuk protes selanjutnya. Hingga satu jam kemudian, Persipura tetap tidak ingin melanjutkan permainan. Alhasil Sriwijaya dinyatakan sebagai juara Copa Indonesia 2008/09.

MENTAL JUARA
Sementara itu di perhelatan Confederation Cup 2009 terjadi duel menegan
gkan antara Brazil yg juga juara bertahan versus Amerika Serikat tim yang cukup mengejutkan. Di partai sebelumnya ada tuan rumah Afrika Selatan yang meladeni raksasa eropa Spanyol pada perebutan tempat ketiga. Spanyol lah kali ini yang unggul dengan susah payah dengan skor 3-2.

Di babak pertama, Brazil tetap dominan dengan melancarkan serangan-serangan berbahaya ke jantung pertahanan Amerika Serikat. Tim besutan Bob Bradley pun tak mau ka
lah. Bahkan memanfaatkan umpan Jonathan Spector, Clint Dempsey berhasil menuntaskannya menjadi gol di menit ke-10. Tak cukup satu gol, tim Paman Sam ini kembali menambah keunggulan. Memanfaatkan counter attack, di menit-27 Landon Donovan mampu mengecoh Ramires sebelum akhirnya melesakkan gol. Brazil nampak frustasi karena peluang-peluangnya tak mampu dikonversikan menjadi gol.

Dengan bermaksud mengejar ketertinggalan, Brazil langsung tancap gas di awal babak kedua. Tidak sia-sia, Luis Fabiano membawa timnya menjadi lebih bersemangat berkat golnya di menit-46. Striker andalan Brazil ini kembali mempecundangi Tim Howard di m
enit ke-74 setelah memanfaatkan kemelut yang dibuat oleh Kaka dan Robinho. Dengan gol yang dibuatnya ini Brazil menyamakan kedudukan sekaligus membawanya ke puncak top scorer dengan enam gol.

Akhir yang dramatis terjadi di menit 84. Elano yang menggantikan Ramires di babak kedua mengambil sepak pojok. Umpannya berhasil disambut dengan sangat baik oleh kapten tim, Lucio dan membawa Brazil berbalik unggul 2-3. Perjuangan tak kenal lelah kedua tim akhirnya berhenti saat wasit Martin Hansson asal Swedia meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.


Brazil juara Confederation Cup 2009


Dengan kemenangan tersebut Brazil berhasil mempertahankan gelar juara yang sebelumnya mereka raih pada tahun 2005. Ini juga membuktikan bahwa tim Brazil memiliki mental juara yang kuat. Persepakbolaan Indonesia memang belum sedewasa negara-negara lainnya. Tapi sudah seharusnya elemen-elemen sepakbola berbenah dari sekarang.

Taufik Hidayat vs Wayne Rooney??

Ternyata, tujuan Manchester United datang ke Indonesia tidak hanya untuk bertanding melawan Indonesia All-Stars di SUGBK aja. Menurut Agum Gumelar, Wayne Rooney memiliki rencana untuk bermain bulutangkis melawan Taufik Hidayat sang peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 silam.

"Saya dengar para pemain MU ingin sekali mengisi jadwal selama di Jakarta nanti dengan bermain bulu tangkis bersama Taufik Hidayat," kata Agum selaku ketua panitia dan project officer tur Manchester United ke Indonesia.

Selain itu juga, para punggawa Red Devils ingin menyempatkan waktu untuk bermain golf bersama dengan Rani Juliani sebagai Caddy nya.

"Saya rasa, kegiatan para pemain MU selama di Jakarta nanti perlu mendapat jadwal khusus agar mereka merasa berkesan saat meninggalkan Indonesia," ujarnya seperti dikutip Kompas.

Gak tau bener atau nggak, yang jelas kalau benar terjadi dipastikan laga ini seru. Bintang sepakbola dunia versus bintang bulutangkis dunia. wooooow....





Taufik Hidayat vs Wayne Rooney