'Saya' Bawa Kabur Mobil?

Selamat pagi, buat yang baca ini pagi-pagi. Selamat siang, buat yang baca ini siang-siang. Selamat malam, buat yang baca ini malam-malam. Selamat jalan, buat yang baca ini jalan-jalan.

Pada postingan ini gua akan mengklarifikasi kasus kriminal yang melibatkan gua (lagi). Ceileh, klarifikasi. Sebelumnya mungkin lu udah pernah baca tentang perampasan smartphone gua di Senayan? atau tentang nyokap gua yang ditelepon kepolisian karena gua ditangkap tangan sedang membawa narkoba? Agak ngenes kalau diinget-inget. Sekarang, kasus kriminal apa lagi?


Sore itu, 12 November 2013, gua baru aja selesai ikut kuliah umum di kampus tentang Perlindungan Satwa dan Penyiksaan Hewan. Materinya tentang bagaimana perilaku manusia zaman sekarang yang dengan gampangnya memperjualbelikan bahkan membunuh hewan liar yang harusnya dilindungi. Di perjalanan pulang bareng temen-temen, sekitar pukul 16.00, gua ditelepon dari nomor yang gak dikenal. Biasanya sih kalo nomor gak dikenal gak akan gua angkat, tapi yang ini gua angkat, soalnya lagi gerimis. Yailah, diangkat karena lagi gerimis, lo kate jemuran, Pis?!

Begini kira-kira isi percakapannya:
Penelepon (P): Halo?
Muhammad Hafizhuddin (MH): Ya, password-nya apa? Halo?
P: Benar ini dengan Muhammad?
MH: Ya, betul. (tanpa diikuti kalimat "Sayalah Nabi utusan Allah.")
*jarang-jarang ada yang panggil gua pake nama depan. :))
P: Lagi di mana?
MH: Lagi di Fikom. Ini siapa ya?
P: Ini security Unpad. Bisa ga ke pos satpam yang dekat rektorat?
MH: Euh, pos satpam sekarang?
P: Ya, bisa gak sebentar aja.
MH: Hmmm, bisa sih, Pak. Pos satpam dekat rektorat yang di atas?
P: Ya, pos satpam yang di gerbang atas, dekat Asrama Padjadjaran II.
MH: Oke, Pak.

Walaupun masih bingung sebenernya kenapa sampai se-urgent itu gua disuruh ke pos satpam, gua pun bergegas ke sana. Untung ada temen yang bawa motor, bisa nebeng, karena sore itu udah ga ada angkot gratis. Kalo harus jalan ke pos satpam gerbang atas yang jaraknya sekitar dua kilometer dan menanjak itu, gua mungkin bakal ke sana sambil pasang lagu Jangan Menyerah-nya d'Masiv.

Di perjalanan gua masih bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat gua harus dipanggil satpam seperti ini? Sejujurnya, gua selalu siram bekas pipis gua kalo di kampus, malah siramin pipis orang lain. Gua juga selalu pakai celana tiap dateng ke rektorat.

Sesampainya di pos satpam, gua disambut dengan senyuman manis para satpam yang bertugas, semanis gula bubuk donat danusan. Di sana sudah ada sekitar empat orang satpam dan dua warga sipil. "Santai aja, sok (silahkan) duduk," kata seorang satpam yang mengira gua takut diapa-apain. Yaelah, bro... padahal kan emang iya.

"KTM kamu pernah hilang?", tanya seorang satpam. "Ah, engga kok. Nih ada, Pak", jawab gua sambil nunjuk pantat gua sendiri. Ya, KTM gua kan ada di dompet, dompetnya ada di saku belakang celana. Gua pun mengeluarkan KTM dengan penuh keyakinan. Satpam itu juga mengeluarkan sebuah kartu berwarna jingga. Gua serahkanlah KTM itu ke satpam, dan ia menjejerkan kedua kartu di atas meja.

Secara sepintas, kedua kartu itu terlihat berbeda meski berukuran serupa. KTM Unpad punya gua berwarna kuning, sedangkan kartu satu lagi berwarna jingga. Namun, yang menarik adalah NOMOR KTM SAMA PERSIS! Gua kaget dan bingung. Kok bisa? Gimana caranya? Aku siapa? Aku di mana?

Kalau diliat-liat lagi, data gua di KTM dijiplak di KTM palsu itu. Bukan cuma nomor, tapi sampe fakultas dan golongan darahnya sama. Bedanya cuma nama dan foto. Di situ tertulis Donny (gua lupa nama panjangnya) dengan pas foto semacam foto KTP. Padahal untuk KTM harusnya foto yang pakai jas almamater.

"Ini ada orang yang pake, bawa kabur mobil rental", kata satpam itu lagi. Wadefak?! Dua orang sipil yang duduk di sebelah gua adalah dua orang rental mobil yang melapor ke satpam Unpad. Gua pun mengingat-ingat lagi penggunaan KTM selama ini. Seingat gua, KTM cuma dipakai untuk keperluan kampus, seperti pinjam kabel LCD di rooster atau untuk masuk ke perpus.

Setelah berbincang-bincang sekitar 20 menit, gua diperbolehkan pulang. Ya, sebenernya untuk tempat peminjaman harus lebih teliti lagi, karena bahaya juga kalau asal pinjemin barang hanya dengan jaminan kartu. Untuk mahasiswa juga hati-hati dalam menggunakan KTM, ga mau kan sore-sore mau pulang tiba-tiba ditelepon suruh ke pos satpam?

Namun, dalam setiap kejadian pasti ada sisi positifnya. Untuk kasus ini, gua bersyukur karena dalam database Unpad yang tercantum adalah nomor HP. Kebayang kan kalau satpam telepon ke nomor rumah, orang tua gua terima telepon dan dikasih kabar kalau anaknya terlibat pencurian mobil?

"ALLAHUAKBAR, DIKULIAHIN JAUH DARI RUMAH, BUKANNYA BELAJAR YANG BENER, MALAH NYOLONG MOBIL!"

Kira-kira begitu. 

1 komentar:

Luzman Karami mengatakan...

wah serem juga ya pis